Konjunktiv II dalam bahasa Jerman: bentuk, würde, dan cara menyatakan pengandaian
Untuk pengandaian, syarat tak nyata, dan permintaan sopan: bentuk satu kata (hätte, wäre, käme, könnte), selebihnya würde + infinitif.
Aturan
Konjunktiv II adalah bentuk untuk segala hal yang (belum) nyata: keinginan dan syarat yang tak nyata, permintaan sopan, saran, serta perbandingan khayal dengan als ob («seolah-olah»). Gagasannya dikenal dari pengandaian bahasa Indonesia: «Seandainya saya punya waktu, saya akan ikut.» Bedanya, setelah «seandainya» verba Indonesia tetap, sedangkan bahasa Jerman mengubah bentuk verbanya.
Bentuk satu kata. Konjunktiv II dibentuk dari kata dasar Präteritum (kala lampau tulis) + akhiran -e, -est, -e, -en, -et, -en (ging → ginge). Verba kuat, sein, haben, werden, beberapa verba tak beraturan (brächte, dächte), dan verba modal (Modalverb) kecuali wollen dan sollen juga mendapat Umlaut pada a, o, u: ich kam → ich käme, ich konnte → ich könnte, ich hatte → ich hätte. Bentuk verba lemah sama dengan Präteritum (ich kaufte), sehingga verba ini memakai würde + infinitif.
würde + infinitif. Dalam pemakaian nyata hanya sedikit bentuk satu kata yang bertahan: sein, haben, werden, verba modal, dan segelintir verba kuat (käme, ginge, gäbe, wüsste, fände; bräuchte bersifat lisan — bentuk bakunya brauchte). Verba lain, termasuk verba lemah (beraturan), biasanya memakai würde + Infinitiv: Ich würde sofort kündigen. Pada haben, sein, dan verba modal, bentuk würde tidak salah, hanya tidak lazim: Wenn ich Zeit hätte adalah pilihan biasa, Wenn ich Zeit haben würde terdengar kaku.
Tanpa wenn. Konjungsi wenn boleh dihilangkan; verba yang dikonjugasi lalu berdiri di depan: Hätte ich Zeit, käme ich mit. (= Wenn ich Zeit hätte, würde ich mitkommen.) Gaya ini lebih formal.
Masa lampau. Bentuk bakunya hätte / wäre + Partizip II (partisip lampau): Ich hätte gefragt, Wir wären geblieben; verba bantunya sama dengan yang dipakai verba itu dalam Perfekt (lampau lisan). Dengan verba modal muncul infinitif ganda: Ich hätte fragen können. Dalam anak kalimat, verba yang dikonjugasi berdiri di depan infinitif ganda itu: …, dass ich hätte anrufen können.
Pola yang berguna: Wenn ich … hätte, würde ich …, Ich hätte gern …, Könnten Sie …?, An deiner Stelle würde ich …
Contoh
- Wenn ich mehr Zeit hätte, würde ich Spanisch lernen. — Seandainya saya punya lebih banyak waktu, saya akan belajar bahasa Spanyol.
- Hätte ich mehr Zeit, käme ich mit. — Seandainya saya punya lebih banyak waktu, saya akan ikut.
- Ich wäre jetzt gern am Meer. — Saya ingin sekali berada di pantai sekarang.
- Könnten Sie mir bitte kurz helfen? — Tolong, bisakah Anda membantu saya sebentar?
- An deiner Stelle würde ich den Vertrag nicht unterschreiben. — Kalau saya jadi kamu, saya tidak akan menandatangani kontrak itu.
- Er tut so, als ob er nichts wüsste. — Ia (laki-laki) bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa.
- Ich hätte gern einen Kaffee und ein Wasser. — Saya minta satu kopi dan satu air mineral.
- Wenn wir früher losgefahren wären, hätten wir den Zug erreicht. — Seandainya kami berangkat lebih awal, kami pasti sempat naik kereta itu.
- Schade, dass ich nicht hätte anrufen können. — Sayang sekali saya tidak bisa menelepon waktu itu.
Tabel
| ich | du | er/sie/es | wir | ihr | sie/Sie | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| sein | wäre | wär(e)st | wäre | wären | wär(e)t | wären |
| haben | hätte | hättest | hätte | hätten | hättet | hätten |
| werden | würde | würdest | würde | würden | würdet | würden |
| können | könnte | könntest | könnte | könnten | könntet | könnten |
| müssen | müsste | müsstest | müsste | müssten | müsstet | müssten |
| dürfen | dürfte | dürftest | dürfte | dürften | dürftet | dürften |
| wollen* | wollte | wolltest | wollte | wollten | wolltet | wollten |
| sollen* | sollte | solltest | sollte | sollten | solltet | sollten |
| kommen | käme | kämest (kämst) | käme | kämen | kämet (kämt) | kämen |
* wollen dan sollen tidak mendapat Umlaut, sehingga Konjunktiv II-nya sama dengan Präteritum; konteks (atau kalimat dengan würde) yang menunjukkan maksudnya.
Kesalahan umum
- ⚠️ Ich würde gestern gern gekommen sein. → ✅ Ich wäre gestern gern gekommen. — tidak salah, tetapi jarang dan janggal; bentuk baku masa lampau adalah hätte/wäre + Partizip II.
- ❌ Ich hätte gestern kommen gekonnt. → ✅ Ich hätte gestern kommen können. — dalam Konjunktiv II masa lampau, verba modal membentuk infinitif ganda, bukan Partizip II.
- ❌ …, dass ich anrufen können hätte. → ✅ …, dass ich hätte anrufen können. — dengan infinitif ganda, hätte berdiri di depan kedua infinitif, bukan di akhir.
- ❌ Er tut so, als ob er krank ist. → ✅ Er tut so, als ob er krank wäre. — setelah als ob verbanya berada di akhir; bentuk indikatif ist adalah ragam lisan, bahasa tulis baku memakai Konjunktiv II (kadang-kadang Konjunktiv I: sei).
- ❌ Wenn ich reich werde, würde ich viel reisen. → ✅ Wenn ich reich wäre, würde ich viel reisen. — syarat yang tak nyata memerlukan Konjunktiv II di kedua klausa.
Topik terkait
Konjunktiv I adalah bentuk tersendiri untuk kalimat tidak langsung; Präteritum menyediakan kata dasar tempat Konjunktiv II dibangun.
Pertanyaan umum
Kapan saya memakai würde dan kapan bentuk Konjunktiv II satu kata?
Bentuk satu kata dipertahankan untuk sein, haben, werden, verba modal, dan beberapa verba kuat yang sering dipakai (käme, ginge, gäbe, wüsste). Untuk verba lain, termasuk verba lemah (beraturan), bahasa Jerman sehari-hari memakai würde + infinitif.
Bagaimana Konjunktiv II dibentuk?
Ambil kata dasar Präteritum, lalu tambahkan -e, -est, -e, -en, -et, -en. Verba kuat, sein, haben, werden, dan verba modal kecuali wollen dan sollen juga mendapat Umlaut pada a, o, u: kam → käme, konnte → könnte. Verba lemah tidak mendapat Umlaut dan dalam praktiknya memakai würde + infinitif.
Bagaimana membicarakan keadaan tak nyata di masa lampau?
Bentuk bakunya hätte atau wäre + Partizip II: Ich hätte angerufen, Wir wären früher gekommen. Verba bantunya sama dengan yang dipakai verba itu dalam Perfekt. Bentuk dengan würde (würde … gekommen sein) jarang dan terdengar janggal.
Bisakah wenn dihilangkan dalam kalimat pengandaian?
Bisa. Letakkan verba yang dikonjugasi di depan: Hätte ich Zeit, käme ich mit. Maknanya sama dengan Wenn ich Zeit hätte, …, tetapi gayanya lebih formal.
Apakah Konjunktiv II bentuk sopan dalam bahasa Jerman?
Ya. Könnten Sie …?, Würden Sie …?, dan Ich hätte gern … terdengar jauh lebih halus daripada kalimat yang sama dalam Präsens.

